Teluk Kepayang- Kondisi Pendidikan Memprihatinkan BEM Uniska MAB 5 Masalah Kritis Banjarmasin, kota yang dikenal sebagai “Kota Seribu Sungai,” ternyata menyimpan sejumlah persoalan serius di sektor pendidikan dasar. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) baru-baru ini merilis hasil kajian yang mengungkap lima kondisi memprihatinkan terkait pendidikan dasar di ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan tersebut.
1. Sekolah Terbengkalai di Pusat Kota
Salah satu temuan mencolok adalah nasib SD Melayu 5, yang terbakar setahun lalu namun hingga kini belum direnovasi atau difungsikan kembali. Padahal, sekolah ini berlokasi di jantung Kota Banjarmasin.
“Kalau sekolah di tengah kota saja luput dari perhatian, bagaimana dengan sekolah di wilayah pinggiran seperti SDN Basirih 10?” kritik Masruni, Menteri Analisis dan Kajian Strategis BEM Uniska.
Keberadaan bangunan sekolah yang terbengkalai ini dinilai mencerminkan ketimpangan perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan.
2. Bangunan Sekolah Rusak Berat
Kajian yang dilakukan selama dua bulan terakhir ini juga menemukan banyak sekolah dasar dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan atap bocor, dinding retak, hingga ruang kelas yang nyaris roboh.
“Di balik semarak janji pembangunan, masih banyak sekolah berdiri di jalan yang belum diaspal, atapnya bocor, dan fasilitas belajar yang tidak layak,” ungkap Muhammad Anzari, Presiden Mahasiswa Uniska.

3. Minimnya Akses Jalan Layak
Tidak hanya bangunan, akses menuju beberapa sekolah dasar di Banjarmasin juga masih buruk. Banyak sekolah yang berada di lokasi dengan jalan berlubang, belum diaspal, atau bahkan tergenang air saat hujan. Hal ini menyulitkan siswa, guru, dan orang tua dalam menjalani aktivitas belajar-mengajar.
4. Kurangnya Fasilitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Meski regulasi mewajibkan sekolah menerima siswa berkebutuhan khusus, kenyataannya, fasilitas pendukung seperti aksesibilitas ruangan, alat pembelajaran khusus, dan tenaga pendidik yang terlatih masih sangat minim.
“Padahal, inklusivitas pendidikan adalah hak dasar setiap anak. Pemerintah harus lebih serius dalam memenuhi kebutuhan ini,” tegas Masruni.
5. Belum Ada Respons Pemerintah
Yang lebih disayangkan, BEM Uniska mengaku belum mendapat respons dari Pemerintah Kota Banjarmasin meski telah mengajukan permohonan audiensi resmi.
“Kami berharap kajian ini menjadi masukan konkret bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk segera bertindak,” harap Anzari.
Tuntutan Solusi Nyata
BEM Uniska mendesak pemerintah untuk:
-
Memperbaiki dan membangun kembali sekolah yang rusak, termasuk SD Melayu 5.
-
Meningkatkan kualitas infrastruktur seperti jalan dan drainase di sekitar sekolah.
-
Memastikan sekolah inklusif dengan menyediakan fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus.
-
Meningkatkan alokasi anggaran pendidikan yang tepat sasaran.
-
Membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi.
Dengan kondisi yang ada, masa depan pendidikan dasar di Banjarmasin masih menjadi tanda tanya besar. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan generasi penerus akan semakin tertinggal dalam hal kualitas pendidikan.












