Info Teluk Kepayang – Inovasi ramah lingkungan kembali lahir dari dunia pendidikan tinggi. Tiga dosen dari Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) berhasil mengembangkan produk roster ramah lingkungan berbahan dasar limbah kulit kayu galam. Temuan ini tidak hanya menjawab persoalan limbah kayu di Kalimantan Selatan, tetapi juga membuka peluang baru dalam industri material bangunan yang berkelanjutan.
Roster dari Limbah Jadi Material Bernilai Tinggi
Ketiga dosen Politala yang tergabung dalam tim penelitian ini memanfaatkan limbah kulit kayu galam—yang selama ini dianggap tidak bernilai—menjadi bahan campuran pembuatan roster atau bata berlubang untuk ventilasi.
Menurut ketua tim, penggunaan limbah kulit kayu galam mampu mengurangi ketergantungan terhadap material semen dan pasir. Hasil uji coba awal menunjukkan roster yang dihasilkan cukup kuat, tahan lama, serta memiliki nilai estetika yang unik karena tekstur alami dari serbuk kayu.
“Tujuan kami sederhana, bagaimana mengubah limbah yang menumpuk menjadi produk ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Roster berbahan limbah galam ini bisa menjadi alternatif baru dalam pembangunan rumah atau gedung,” jelas salah satu dosen peneliti.
Menjawab Persoalan Lingkungan
Kalimantan Selatan dikenal sebagai daerah dengan potensi hutan galam yang besar. Namun, aktivitas pengolahan kayu galam sering menghasilkan limbah kulit kayu yang jarang dimanfaatkan. Limbah ini biasanya hanya dibakar atau dibuang, yang justru bisa menimbulkan pencemaran lingkungan.
Dengan inovasi ini, limbah kulit kayu yang melimpah dapat diserap ke dalam industri konstruksi. Hal tersebut sekaligus mendukung program pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.

Baca juga: Pelestarian Ikan Belida: Upaya Kilang Pertamina Selamatkan Identitas Sungai Musi
Dukungan Kampus untuk Hilirisasi Riset
Direktur Politala memberikan apresiasi atas capaian ketiga dosennya. Ia menegaskan bahwa kampus mendukung penuh hilirisasi riset agar hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan di tengah masyarakat.
“Kami berharap roster ramah lingkungan ini bisa masuk ke pasar material bangunan lokal. Kalau memungkinkan, kami juga akan mendorong kerja sama dengan pelaku usaha dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Potensi Ekonomi bagi UMKM
Selain ramah lingkungan, produk roster dari limbah kulit kayu galam ini juga berpotensi membuka peluang usaha baru. Para peneliti menilai bahwa proses produksinya dapat dilakukan dengan peralatan sederhana sehingga cocok untuk dikembangkan oleh pelaku UMKM di bidang konstruksi.
Dengan harga bahan baku yang murah, roster ini diprediksi akan lebih terjangkau dibanding produk konvensional. Bahkan, desain roster bisa dikreasikan sesuai kebutuhan pasar, baik untuk ventilasi rumah, ornamen dinding, maupun elemen dekoratif bangunan modern.
Harapan Jadi Produk Unggulan Daerah
Tim peneliti Politala optimis bahwa inovasi ini bisa menjadi produk unggulan daerah Kalimantan Selatan. Selain menekan volume limbah, roster berbahan kulit kayu galam juga membawa identitas lokal ke dalam dunia konstruksi.
“Kami ingin roster ini tidak hanya dikenal sebagai material ramah lingkungan, tetapi juga sebagai produk khas Tanah Laut yang bisa bersaing di pasar nasional,” ungkap salah satu peneliti.
















